Pelatihan Psychological First Aid Tingkatkan Kesiapan Guru Cegah Perundungan di Sekolah Malaysia

Artikel im pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, UIN Raden Mas Said Surakarta, dan Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta bersama guru Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jemaah, Sungai Besar, Selangor, Malaysia

SELANGOR — Program pengabdian kepada masyarakat kolaboratif yang melibatkan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, dan Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta berhasil meningkatkan pemahaman guru dalam mencegah serta menangani perundungan di lingkungan sekolah.

Program bertajuk “Pencegahan Bullying: Pendekatan Edukasi dan Psikososial” dilaksanakan di Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jemaah, Sungai Besar, Selangor, Malaysia. Kegiatan tersebut berfokus pada penguatan kapasitas guru melalui pelatihan Psychological First Aid atau PFA dan integrasi nilai-nilai spiritual.

Program dilaksanakan pada 28–31 Januari 2026 dengan melibatkan 24 guru sebagai peserta. Pendekatan yang digunakan memadukan strategi preventif dan kuratif melalui peningkatan literasi antip­erundungan, komunikasi empatik, serta pembentukan mekanisme pendampingan yang dapat dilaksanakan sekolah secara mandiri.

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemahaman warga sekolah terhadap perundungan. Berdasarkan wawancara dan observasi awal tim bersama pihak sekolah, lebih dari 45 persen guru dan peserta didik masih menganggap perundungan sebagai gurauan atau dinamika sosial yang wajar.

Selain itu, sekitar 60 persen guru merasa belum siap menangani kasus perundungan karena keterbatasan keterampilan mendengarkan secara empatik. Respons yang terlalu normatif atau menghakimi berisiko membuat peserta didik yang menjadi korban merasa semakin terasing dan enggan menyampaikan permasalahannya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim menyelenggarakan workshop “Membangun Sekolah Aman: Pelatihan Psychological First Aid bagi Guru dalam Menangani Bullying”. Guru dibekali pemahaman mengenai jenis perundungan, dinamika korban, pelaku dan saksi, tanda tekanan psikologis, serta strategi intervensi awal.

Pelatihan dilaksanakan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, refleksi pengalaman, simulasi, dan role-play. Pada sesi praktik, peserta mempelajari pendekatan Look, Listen, Link untuk mengenali kondisi siswa, mendengarkan secara empatik, dan menghubungkan korban dengan dukungan yang relevan.

Materi psikososial disampaikan oleh Athia Tamyizatun Nisa, S.Pd., M.Pd., dan Aulia Rachma Fajria, M.Pd., dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. Keduanya menjelaskan dinamika psikologis korban, komunikasi empatik, dan prinsip dasar PFA sebagai dukungan awal bagi siswa yang mengalami tekanan emosional.

Sementara itu, Dr. Muh. Nur Rochim Maksum, S.Pd.I., M.Pd.I., dari Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam UMS memberikan penguatan dari perspektif pendidikan Islam. Materi menekankan nilai empati, ukhuwah, tanggung jawab moral, serta larangan merendahkan dan menyakiti sesama.

Integrasi pendekatan psikologis dan spiritual menjadi unsur penting dalam kegiatan tersebut. Penanganan perundungan tidak hanya diarahkan pada penyelesaian kasus, tetapi juga pada pembentukan budaya sekolah yang menjunjung kasih sayang, martabat manusia, dan perlindungan terhadap peserta didik.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sekitar 90 persen peserta mengalami peningkatan skor setelah mengikuti rangkaian pelatihan. Nilai rata-rata pemahaman guru meningkat dari 3,64 pada pre-test menjadi 4,36 pada post-test, atau naik sebesar 19,78 persen.

Peningkatan tertinggi tercatat pada pengetahuan mengenai cara membantu korban perundungan, yakni sebesar 29,59 persen. Pemahaman tentang tindakan yang tidak boleh dilakukan ketika membantu korban meningkat sebesar 25,44 persen, sedangkan kemampuan mengenali korban meningkat sebesar 24,32 persen.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan tidak sekadar menambah pengetahuan konseptual, tetapi juga memperkuat kesiapan guru dalam memberikan respons awal yang lebih empatik, tepat, dan sistematis. Guru didorong menjadi safe adults atau orang dewasa yang dapat dipercaya oleh siswa ketika menghadapi perundungan.

Mahasiswa turut terlibat dalam pelaksanaan program. Alfan Rifai, Lc., M.Pd., mendampingi kegiatan interaktif dan kuis reflektif. Viky Nur Vambudi, S.Pd., M.Pd., dan Abil Fida Muhammad Qois Al Hadi,  S.Pd. berperan dalam dokumentasi serta publikasi kegiatan. Keterlibatan tersebut memberikan pengalaman kontekstual kepada mahasiswa dalam pengabdian masyarakat berbasis pendidikan dan nilai keislaman.

Program ini melibatkan Muh. Nur Rochim Maksum, Nurul Latifatul Inayati, Wachidi, Athia Tamyizatun Nisa, Izzun Khoirun Nissa, Lukman Harahap, Viky Nur Vambudi, Alfan Rifai, Abil Fida Muhammad Qois Al Hadi, Ade Kurniawan, Lokahita Reangeli Cahyani, Galih Anisa Fala, dan Nadia Zakia Al ‘Ulya. Tim tersebut berasal dari UMS, UIN Raden Mas Said Surakarta, dan Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.

Melalui kolaborasi internasional ini, perguruan tinggi dan sekolah mitra berupaya membangun pendekatan pencegahan perundungan yang tidak berhenti pada sosialisasi. Sekolah didorong mengembangkan sistem pelaporan, pendampingan, rujukan, dan kebijakan perlindungan peserta didik secara berkelanjutan.

Hasil program memperlihatkan bahwa penguatan keterampilan sosial-emosional guru dapat menjadi fondasi penting bagi terciptanya sekolah yang aman dan inklusif. Sinergi antara pendidikan, dukungan psikososial, dan nilai spiritual juga memperkuat peran guru sebagai garda terdepan dalam melindungi peserta didik dari kekerasan.