Kurikulum Pendidikan Ulama Harus Adaptif, Riset Mahasiswa MPAI UMS Ungkap Tiga Fase Perubahan
Kurikulum pendidikan Islam perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan tujuan utama pembentukan ulama dan pemimpin umat.
Penelitian mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (MPAI UMS), Fadhlurrahman Rafif Muzakki, mengkaji perkembangan kurikulum Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) sepanjang 1968–2023. Penelitian tersebut dilakukan bersama Mohammad Ali dan Mutohharun Jinan menggunakan pendekatan kualitatif-historis.
Hasil penelitian membagi perubahan kurikulum PUTM ke dalam tiga fase, yaitu fase perintisan, pemantapan, dan perkembangan. Setiap fase menggunakan pendekatan pengembangan kurikulum yang berbeda sesuai dengan kebutuhan lembaga, tenaga pengajar, dan tujuan kaderisasi.
Pada awalnya, pengembangan kurikulum lebih banyak ditentukan oleh pimpinan lembaga. Dalam perkembangannya, penyusunan kurikulum mulai melibatkan pengajar, perguruan tinggi, ahli kurikulum, serta tokoh Muhammadiyah. Metode pembelajaran juga berkembang dari sorogan dan bandongan menjadi ceramah, diskusi, serta debat.
Kurikulum PUTM diarahkan untuk mencetak kader ulama, dai, dan penggerak dakwah Muhammadiyah. Agar hasil pendidikan lebih terukur, lembaga menyusun silabus secara sistematis serta melaksanakan evaluasi akademik dan pembinaan ibadah secara berkala.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan ulama tidak dapat bersifat statis. Kurikulum harus terus dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat, tetapi tetap mempertahankan kompetensi keislaman, dakwah, kepemimpinan, dan pengabdian kepada umat.
Sumber penelitian: Fadhlurrahman Rafif Muzakki, Mohammad Ali, dan Mutohharun Jinan, Dinamika Kurikulum Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Periode 1968–2023, Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta.