
SURAKARTA — Pendekatan berbasis komunitas dan penguatan nilai religius dinilai memiliki peran penting dalam mendukung proses perubahan perilaku serta pengembangan diri generasi muda. Hal tersebut terungkap dalam penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mengkaji proses transformasi diri mantan pelaku kenakalan remaja melalui pembinaan religius di Komunitas Pemuda Insyaf Karanganyar (KOPIKA).
Penelitian berjudul “Self-Transformation of Ex-Juvenile Delinquents Through Fostering Religiosity in the Context of Fulfilling Maslow’s Psychological Hierarchy of Needs” dilakukan oleh Muh. Nur Rochim Maksum, Luthfi Syifa’ Fauziyah, Athia Tamyizatun Nisa, dan Viky Nur Vambudi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta serta UIN Raden Mas Said Surakarta.
Penelitian ini bertujuan memahami faktor yang memengaruhi munculnya perilaku menyimpang pada remaja sekaligus menganalisis bagaimana pembinaan religius dapat menjadi sarana perubahan diri. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, penelitian ini menggambarkan pengalaman anggota KOPIKA dalam menjalani proses pemulihan karakter dan reintegrasi sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor keluarga, lingkungan sosial, serta kondisi ekonomi menjadi beberapa aspek yang berpengaruh terhadap perkembangan perilaku remaja. Oleh karena itu, proses pembinaan tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis dan spiritual individu.
KOPIKA sebagai komunitas berbasis keagamaan mengembangkan berbagai program pembinaan yang menggabungkan pendekatan spiritual, sosial, dan psikologis. Program seperti Bikers Subuhan, Bir Mizon (Belajar Iqra Minggu Zonten), Mas Bro (Maos Qur’an Sesarengan Malem Rebo), Sini Ramal (Sinau Iqra Rabu Malam), Algojo (Al-Kahfi Go to Malam Jumat), serta kegiatan sosial lainnya menjadi ruang pembelajaran agama, penguatan karakter, dan pembentukan lingkungan positif bagi para anggota komunitas.
Selain pembinaan keagamaan, penelitian ini menemukan bahwa aktivitas komunitas juga berperan dalam memenuhi kebutuhan psikologis berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Program yang dilakukan membantu membangun rasa aman, hubungan sosial, penghargaan diri, hingga mendorong anggota untuk mencapai aktualisasi diri melalui kontribusi positif di masyarakat.
Salah satu pendekatan yang menarik dalam KOPIKA adalah menciptakan ruang yang terbuka dan menerima berbagai latar belakang anggota. Melalui kegiatan berbagi pengalaman, pembelajaran agama, dan aktivitas sosial, komunitas ini berupaya membangun rasa memiliki serta memberikan kesempatan bagi anggota untuk mengembangkan potensi diri.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa model pembinaan berbasis komunitas memiliki potensi untuk menjadi alternatif dalam mendukung proses perubahan sosial generasi muda. Integrasi antara pendidikan agama, dukungan sosial, dan pemenuhan kebutuhan psikologis dapat membantu menciptakan proses transformasi yang lebih menyeluruh.
Melalui penelitian ini, para peneliti menegaskan pentingnya pendekatan yang humanis dalam mendampingi generasi muda. Pembinaan yang berkelanjutan, berbasis nilai, dan melibatkan komunitas dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter serta masa depan yang lebih baik bagi anak muda. (MPAI/Humas)
