Riset MPAI UMS Ungkap Peran Komunitas Religius dalam Mendampingi Transformasi Pemuda

SURAKARTA — Penelitian mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menunjukkan bahwa komunitas berbasis religiusitas dapat menjadi ruang pembinaan yang efektif bagi pemuda untuk meningkatkan kualitas diri, memperkuat kehidupan keagamaan, dan membangun relasi sosial yang positif.

Temuan tersebut merupakan hasil tesis Luthfi Syifa’ Fauziyah berjudul “Pembinaan Eks Pelaku Juvenile Delinquency melalui Peningkatan Religiusitas Islam di Komunitas Pemuda Insyaf Karanganyar dan Komunitas Eks Preman Solo: Analisis Psikologi Pendidikan Islam”.

Penelitian dilakukan di Komunitas Pemuda Insyaf Karanganyar (KOPIKA) dan Komunitas Eks Preman Solo (EKSPRESO). Kedua komunitas tersebut menghadirkan lingkungan pembinaan yang terbuka, religius, dan mendukung proses perubahan anggotanya.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan dan perspektif psikologi pendidikan Islam. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian diperiksa menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa KOPIKA dan EKSPRESO mengembangkan program pembinaan yang disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan anggotanya. Kegiatan tersebut memadukan pembelajaran agama, penguatan hubungan sosial, kegiatan kemanusiaan, dan pendampingan personal.

KOPIKA menjalankan sejumlah program kreatif, seperti Bikers Subuhan, Bir Mizon, Mas Bro, Sini Ramal, Sinabung Kopi, Punk-Ngaosan, Nge-Punk, Hijrah Camp, Ukhuwah Camp, Ngaji Alam, dan Silatu Ride Sowan Kiai.

Program Bikers Subuhan, misalnya, diarahkan untuk membangun kedisiplinan dalam melaksanakan salat Subuh berjemaah sekaligus memperkuat solidaritas antaranggota. Sementara itu, program pembelajaran Al-Qur’an memberikan ruang bagi anggota untuk belajar secara bertahap dalam suasana yang akrab dan tidak menghakimi.

Salah seorang anggota KOPIKA menyampaikan bahwa komunitas memberikan suasana belajar yang setara dan mendukung.

“Saya merasa aman dan nyaman di sini karena sama teman-teman sama-sama belajar bersama. Tidak ada senior junior,” ungkapnya.

Sementara itu, EKSPRESO mengembangkan program Semangat atau Selasa Malam Ngaji Tauhid, Sedekah Kopi Tobat, Majmu Al-Kalam, Rimayah, Dapur Umat, sharing hijrah, Amuba, santunan anak yatim, Senasip, dan berbagai kegiatan selama Ramadan.

Pembinaan di EKSPRESO memberikan perhatian pada peningkatan kualitas ibadah, kemampuan membaca Al-Qur’an, dan penguatan akhlak. Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan Iqra, tahsin, hingga tahfiz sesuai kemampuan anggota.

“Perubahan anggota yang paling kelihatan itu terkait ibadah mahdhah, terutama salat dan membaca Al-Qur’annya,” jelas salah seorang pengurus EKSPRESO dalam penelitian tersebut.

Penelitian juga menganalisis proses pembinaan menggunakan teori Hierarchy of Needs Abraham Maslow. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua komunitas telah berupaya memenuhi kebutuhan anggota, mulai dari kebutuhan dasar, rasa aman, hubungan sosial, penghargaan, hingga pengembangan potensi diri.

Lingkungan komunitas memungkinkan anggota untuk memperoleh dukungan emosional, membangun rasa percaya diri, mengembangkan kemampuan, dan terlibat dalam kegiatan yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Berbagai program sosial, seperti pembagian makanan, sedekah, santunan anak yatim, kegiatan Ramadan, dan pelayanan kepada masyarakat juga menjadi media pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, anggota tidak hanya menerima pembinaan, tetapi turut didorong menjadi pribadi yang aktif dan bermanfaat.

Tesis ini disusun di bawah bimbingan Dr. Muh. Nur Rochim Maksum, S.Pd.I., M.Pd.I., dan Muhammad Wildan Shohib, S.Pd.I., M.Ed., Ph.D.

Hasil penelitian menegaskan bahwa pendidikan agama Islam dapat dikembangkan melalui pendekatan komunitas yang dialogis, kontekstual, dan manusiawi. Pendampingan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu anggota menemukan lingkungan belajar, memperkuat religiusitas, serta mengembangkan potensi mereka secara berkelanjutan.

Melalui penelitian tersebut, MPAI UMS turut mendorong pengembangan model pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga menghadirkan penerimaan, keteladanan, kebersamaan, dan pemberdayaan.