Kolaborasi UMS–Malaysia Perkuat Kesiapan Guru Cegah Perundungan di Sekolah

Suasana pertemuan akademik antara delegasi Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan mitra pendidikan di Malaysia.

SELANGOR — Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama sejumlah perguruan tinggi mitra menyelenggarakan program pencegahan perundungan di Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jemaah, Sungai Besar, Selangor, Malaysia.

Program bertajuk “Pencegahan Bullying: Pendekatan Edukasi dan Psikososial” tersebut dilaksanakan pada 28–31 Januari 2026 dengan melibatkan 24 guru sebagai peserta. Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap bahaya perundungan sekaligus memperkuat kemampuan guru dalam memberikan dukungan awal kepada peserta didik.

Tim pelaksana melibatkan Muh. Nur Rochim Maksum, Nurul Latifatul Inayati, Wachidi, Athia Tamyizatun Nisa, Izzun Khoirun Nissa, Lukman Harahap, Viky Nur Vambudi, Alfan Rifai, Abil Fida Muhammad Qois Al Hadi, Ade Kurniawan, Lokahita Reangeli Cahyani, Galih Anisa Fala, dan Nadia Zakia Al ‘Ulya.

Program tersebut merupakan kolaborasi antara UMS, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta, dan sekolah mitra di Malaysia. Kerja sama lintas institusi ini mempertemukan pendekatan pendidikan, psikososial, dan nilai-nilai keislaman dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman.

Tim pengabdian kepada masyarakat bersama guru Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jemaah, Sungai Besar, Selangor, Malaysia, dalam workshop “Membangun Sekolah Aman: Pelatihan Psychological First Aid bagi Guru dalam Menangani Bullying”,

Kegiatan utama dikemas dalam workshop “Membangun Sekolah Aman: Pelatihan Psychological First Aid bagi Guru dalam Menangani Bullying”. Materi mencakup pengenalan bentuk-bentuk perundungan, dinamika korban, pelaku dan saksi, tanda tekanan psikologis, komunikasi empatik, serta strategi intervensi awal.

Pelatihan menggunakan pendekatan experiential learning melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, kuis reflektif, simulasi, dan role-play. Pada sesi praktik, guru diperkenalkan dengan pendekatan Look, Listen, Link dalam memberikan dukungan psikologis awal kepada siswa.

Athia Tamyizatun Nisa, S.Pd., M.Pd., dan Aulia Rachma Fajria, M.Pd., menyampaikan materi mengenai kondisi psikologis korban perundungan, komunikasi empatik, dan prinsip dasar Psychological First Aid. Sementara itu, Dr. Muh. Nur Rochim Maksum, S.Pd.I., M.Pd.I., memberikan penguatan perspektif keagamaan melalui nilai empati, ukhuwah, dan larangan merendahkan atau menyakiti sesama.

Mahasiswa juga terlibat langsung dalam pelaksanaan program. Alfan Rifai, Lc., M.Pd., mendampingi kegiatan interaktif dan kuis reflektif, sedangkan Viky Nur Vambudi, S.Pd., M.Pd., bersama Abil Fida Muhammad Qois Al Hadi berperan dalam dokumentasi serta publikasi kegiatan.

Hasil evaluasi menunjukkan sekitar 90 persen peserta mengalami peningkatan skor setelah mengikuti workshop. Secara keseluruhan, nilai rata-rata pemahaman guru meningkat dari 3,64 pada pre-test menjadi 4,36 pada post-test, atau naik sebesar 19,78 persen.

Peningkatan tertinggi tercatat pada pengetahuan mengenai cara membantu korban perundungan sebesar 29,59 persen. Peningkatan berikutnya terlihat pada pemahaman mengenai tindakan yang tidak boleh dilakukan ketika mendampingi korban sebesar 25,44 persen dan kemampuan mengenali korban sebesar 24,32 persen.

Program ini memperkuat posisi guru sebagai safe adults, yaitu orang dewasa yang mampu mendengarkan secara empatik, memberikan respons awal yang tepat, dan menghubungkan siswa dengan layanan dukungan ketika diperlukan.

Melalui integrasi pendekatan psikologis, pendidikan, dan spiritual, program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pelatihan jangka pendek. Sekolah perlu menindaklanjutinya melalui mekanisme pelaporan, pendampingan, dan kebijakan perlindungan peserta didik yang dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Hasil program menunjukkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah mitra dapat meningkatkan kapasitas guru dalam merespons perundungan secara lebih empatik, sistematis, dan profesional sekaligus memperkuat budaya sekolah yang aman, inklusif, dan menjunjung nilai kemanusiaan.