Riset MPAI UMS: Adaptasi dan Pendampingan Emosional Jadi Kunci Kesejahteraan Santri Putri Baru

SURAKARTA — Penelitian mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengungkap bahwa kemampuan beradaptasi berperan penting dalam membantu santri putri baru menghadapi tekanan selama masa transisi menuju kehidupan pesantren.

Temuan tersebut berasal dari tesis Dini Zakia Zahra berjudul “Pengaruh Adaptasi Santri Putri Baru terhadap Stres Akulturasi dengan Pemahaman Agama Islam: Studi Kasus di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam dan Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki”.

Penelitian melibatkan 153 santri putri dari kedua pesantren. Data dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis dan Independent Sample T-Test untuk menguji hubungan adaptasi, pemahaman agama Islam, dan stres akulturasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan santri menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, semakin rendah tekanan akulturasi yang dialaminya. Adaptasi tersebut mencakup kemampuan mengelola kerinduan terhadap keluarga, mengikuti pola hidup asrama, membangun hubungan sosial, serta menyesuaikan diri dengan budaya belajar pesantren.

Pengaruh adaptasi tercatat lebih kuat di PPI Al-Mukmin Ngruki dengan kontribusi sebesar 29,8 persen, sedangkan di PPMI Assalaam sebesar 10,9 persen. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa karakter dan ekosistem setiap pesantren turut menentukan proses penyesuaian santri baru.

Penelitian juga menemukan bahwa pemahaman agama tidak secara otomatis menjadi penyangga tekanan psikologis. Efektivitas nilai keagamaan turut dipengaruhi oleh cara penyampaian, lingkungan pendidikan, dan dukungan emosional yang diterima santri.

Karena itu, pendidikan agama perlu dikembangkan tidak hanya melalui penguasaan materi dan kedisiplinan, tetapi juga melalui pendekatan yang membantu santri memahami nilai sabar, tawakal, kasih sayang, dan penerimaan diri secara kontekstual.

Hasil penelitian merekomendasikan agar program orientasi santri baru dilengkapi dengan pelatihan regulasi emosi, pendampingan menghadapi homesickness, layanan bimbingan konseling, dan pendekatan pendidikan yang humanis serta penuh rahmah.

Orang tua juga memiliki peran penting dengan memberikan komunikasi suportif dan validasi emosional, khususnya selama enam bulan pertama masa transisi. Dukungan tersebut dapat membantu santri membangun rasa aman dan menjalani proses adaptasi secara lebih sehat.

Melalui penelitian ini, MPAI UMS mendorong pengembangan pendidikan pesantren yang mengintegrasikan pembinaan keagamaan, kedisiplinan, dan kesejahteraan psikologis. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membentuk santri yang tidak hanya unggul secara akademik dan spiritual, tetapi juga tangguh secara emosional.